Saatini Jabar Nusantara AMP
Berita Jabar Nusantara

Dies Natalis ke-72 UPI, Bidik 5 Subjek Masuk Ranking Dunia dan Perkuat Dampak bagi Masyarakat

Oleh Umar Erwin Editor: Gatot Wahyu
Dies Natalis ke-72 UPI, Bidik 5 Subjek Masuk Ranking Dunia dan Perkuat Dampak bagi Masyarakat (Foto: Rania)

 

BANDUNG, JabarNusantara.SaatIni.COM - Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus memperkuat langkah transformasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi sekaligus memperluas kontribusinya bagi masyarakat.

Memasuki usia ke-72 tahun, UPI menargetkan penguatan reputasi akademik di tingkat internasional melalui peningkatan kualitas tridarma perguruan tinggi, riset, inovasi, dan kerja sama lintas negara.

Komitmen tersebut menjadi bagian dari semangat Dies Natalis ke-72 UPI yang mengusung tema “Melesat Berdampak”.

Peringatan tersebut berlangsung di Gedung Achmad Sanusi, Kota Bandung, Selasa (20/10/2026), dengan penegasan bahwa perguruan tinggi harus mampu bergerak lebih cepat dalam menjawab kebutuhan pendidikan dan tantangan masyarakat.

Rektor UPI, Prof. Didi Sukyadi, menyampaikan bahwa pengembangan universitas tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat.

“Sesuai dengan tema Dies Natalis tahun ini yaitu “Melesat Berdampak”, UPI berkomitmen melaksanakan Tridarma secara lebih cepat, lebih siap, lebih produktif, sehingga bisa memberikan dampak kepada masyarakat, baik dampak secara langsung maupun tidak langsung,” tegas Prof Didi.

Menurutnya, komitmen tersebut diwujudkan melalui transformasi kelembagaan, penguatan tata kelola, serta peningkatan kapasitas secara berkelanjutan.

Berbagai langkah itu diharapkan dapat mempercepat pelayanan, memperkuat kolaborasi antarpihak, dan memastikan dosen serta mahasiswa memperoleh dukungan yang memadai dalam menjalankan kegiatan akademik.

Capaian Akademik Jadi Modal Pengembangan UPI

Dalam pidato Dies Natalis ke-72, Didi memaparkan sejumlah capaian yang menjadi modal bagi UPI untuk melanjutkan pengembangan institusi.

UPI saat ini menempati peringkat pertama perguruan tinggi bidang pendidikan di Indonesia dan peringkat ke-132 dunia.

UPI juga menjadi perguruan tinggi negeri akademik dengan jumlah peminat terbanyak pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Dari total 176 program studi, sebanyak 73,3 persen telah memperoleh akreditasi unggul, sementara program studi lainnya terakreditasi Baik Sekali dan Baik.

Di samping itu, sebanyak 70,04 persen program studi UPI telah memiliki akreditasi internasional. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator pengembangan mutu akademik sekaligus upaya memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan yang diselenggarakan UPI.

Ke depan, UPI menargetkan lima bidang keilmuan dapat masuk dalam pemeringkatan dunia. Kelima bidang tersebut meliputi Education, English Language and Literature, Linguistics, Sports Sciences, dan Tourism.

Untuk memperluas kesempatan belajar mahasiswa, UPI juga memperkuat penyelenggaraan kelas internasional serta memperluas program double degree dan joint degree.

Kerja sama tersebut antara lain dilakukan bersama Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat, dan TSUE Uzbekistan, melalui skema pendanaan pemerintah maupun kerja sama dengan perguruan tinggi mitra.

UPI juga menyiapkan Metamesta UPI yang mencakup Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), MOOC atau pembelajaran daring terbuka, program pelatihan daring, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dan Self Regulated Learning.

Pengembangan tersebut diharapkan memberikan pilihan pembelajaran yang semakin fleksibel serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan pendidikan tinggi.

Perkuat Kerja Sama Pendidikan di Tingkat ASEAN

Penguatan reputasi UPI turut dilakukan melalui jejaring kerja sama internasional, khususnya dalam pengembangan pendidikan dan peningkatan kualitas tenaga pendidik.

UPI berperan aktif dalam ASEAN Teacher Education Network (ASTEN) dan menjadi motor ASEAN Teacher Quality Assurance (ATQA), sebuah lembaga akreditasi program studi kependidikan yang dikembangkan oleh ASTEN.

Di tingkat ASEAN, UPI juga memperoleh pengakuan atas keunggulannya dalam bidang pendidikan karakter.

Salah satu implementasinya dilakukan melalui kerja sama Sekolah Pascasarjana UPI dengan Philippine Normal University (PNU) untuk mengembangkan program pendidikan karakter lintas negara atau Transnational Education (TNE). Program ini dirancang dengan melibatkan perpaduan kurikulum, tenaga pengajar, dan mahasiswa dari kedua negara.

Pada tingkat nasional, UPI mendapat tugas mendampingi Sekolah Nasional Terintegrasi di Kabupaten Cianjur dan Kota Tarakan.

Pendampingan tersebut meliputi penyiapan tenaga pendamping pembelajaran, dukungan terhadap proses belajar, pembinaan, hingga pemantauan.

UPI juga mendapat penugasan untuk merekrut dan menyeleksi calon guru bagi Sekolah Garuda, melatih calon pekerja migran melalui UPI Migrant Center, serta terlibat dalam penyampaian usulan rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional kepada DPR, terutama berkaitan dengan Pendidikan Profesi Guru (PPG) terintegrasi.

Dana Riset Naik Rp70 Miliar

Tidak hanya berfokus pada pembelajaran, UPI juga memperkuat riset dan inovasi agar hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam pemaparan capaian universitas, tercatat sebanyak 491 judul penelitian memperoleh pendanaan dari pihak eksternal. Pada saat yang sama, alokasi dana penelitian dan pengabdian kepada masyarakat meningkat dari Rp40 miliar menjadi Rp70 miliar.

Peningkatan pendanaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat produktivitas penelitian, mendukung publikasi ilmiah, meningkatkan insentif publikasi dan biaya pemrosesan artikel, serta memperkuat kelompok riset dan pengelolaan jurnal.

Di bidang publikasi, UPI memperoleh tambahan jurnal yang terindeks Scopus, yaitu Review of Islamic Economy and Finance (RIEF). Dengan tambahan tersebut, total jurnal UPI yang terindeks Scopus menjadi empat jurnal.

Sementara itu, dalam pengembangan kekayaan intelektual, UPI mencatat 34 paten yang terdiri atas empat paten dan 30 paten sederhana, serta 19 desain industri. Khusus sepanjang 2026, terdapat 22 paten yang terdiri atas satu paten dan 21 paten sederhana.

UPI juga terus mendorong hilirisasi hasil penelitian agar inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap pengembangan akademik.

Saat ini, terdapat enam produk inovasi yang sedang menjalani proses komersialisasi. Dua produk dikembangkan melalui skema lisensi, sedangkan empat lainnya melalui pembentukan perusahaan rintisan atau startup.

Dari pengembangan tersebut, dua perusahaan telah berdiri dan dua lainnya masih dalam proses legalitas pendirian. UPI memiliki porsi saham masing-masing sebesar 10 persen pada perusahaan-perusahaan tersebut.

Salah satu hasil penelitian yang telah diterapkan di masyarakat adalah bionutrien yang dikembangkan tim Program Studi Kimia UPI sejak 2006.

Penelitian tersebut memanfaatkan keanekaragaman hayati tumbuhan tropis untuk menghasilkan suplemen yang mendukung pertumbuhan tanaman.

Kini, bionutrien tersebut diaplikasikan oleh Kelompok Tani Sugihmukti di Kampung Cigugur, Kabupaten Bandung Barat, pada berbagai jenis tanaman sayuran.

AI Jadi Tantangan Baru 

Perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan tenaga kerja turut menjadi perhatian UPI dalam menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan dinamika zaman.

Didi mengutip Future of Jobs Report 2025, yang memperkirakan sekitar 170 juta pekerjaan baru dapat tercipta secara global hingga 2030. Namun, pada periode yang sama, sekitar 92 juta pekerjaan berpotensi tergeser akibat perubahan struktural dunia kerja.

Situasi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama.

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi bagian dari respons terhadap perubahan tersebut. Meski menawarkan berbagai peluang, penggunaan AI tetap perlu disertai tanggung jawab dan kejujuran akademik.

“UPI sudah memiliki regulasi terkait penggunaan AI yang memungkinkan mahasiswa dan dosen menggunakan AI secara legal dan jujur dalam karya akademiknya,” ungkapnya.

Regulasi tersebut menjadi landasan bagi sivitas akademika untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, penelitian, dan pelayanan tanpa mengabaikan integritas ilmiah.

Pengabdian Masyarakat Diperluas

Bagi UPI, pelaksanaan tridarma juga harus tercermin melalui keterlibatan perguruan tinggi dalam membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.

Dalam bidang kebencanaan, UPI berpartisipasi dalam penanganan dampak banjir di Sumatera dan Padang melalui dukungan penanganan kesehatan, pembangunan rumah reflektif surya atau RAFLESIA, serta pemulihan trauma pascabencana.

UPI turut terlibat dalam pemulihan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur dengan membangun dua unit RAFLESIA.

Di Jawa Barat, universitas ini menjalankan program listrik rakyat (LIRA) dan bedah rumah bagi masyarakat di wilayah Rongga, Kabupaten Bandung Barat, termasuk warga yang menghadapi keterbatasan akses listrik.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat juga dilaksanakan melalui program mahasiswa dengan dukungan pendanaan pemerintah maupun kegiatan sosial yang dilakukan secara mandiri bersama warga.

Sementara itu, untuk menjawab persoalan kekurangan guru mata pelajaran di tingkat SMA dan SMK di Jawa Barat, UPI menginisiasi Program Penguatan Bidang Kependidikan melalui gerakan mahasiswa mengajar di Jawa Barat atau Probidik Gema Jabar.

Berbagai program tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan universitas tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan reputasi institusi, tetapi juga memperluas manfaat pendidikan, ilmu pengetahuan, dan inovasi bagi masyarakat.

Keadilan Pembiayaan Kuliah

Di tengah upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi, persoalan pembiayaan kuliah turut menjadi perhatian Rektor UPI.

Didi menilai dukungan pembiayaan pendidikan dari negara merupakan investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendorong kemajuan bangsa.

Kebijakan pembiayaan yang tepat dinilai dapat memperluas akses pendidikan serta mencegah mahasiswa kehilangan kesempatan belajar akibat keterbatasan ekonomi keluarga.

Gagasan penerapan kuliah gratis pun dinilai dapat menjadi harapan bagi masyarakat. Namun, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan keterbatasan ruang fiskal negara dan prinsip keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Namun demikian, kita juga harus ingat bahwa pembiayaan pendidikan tinggi yang dibebankan kepada negara juga harus berkeadilan.

Jangan sampai terjadi pajak yang dibayarkan masyarakat kurang mampu digunakan untuk menyubsidi biaya kuliah mereka yang berkemampuan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya kebijakan pendidikan yang tidak hanya memperluas akses, tetapi juga memastikan bantuan pembiayaan dapat diberikan secara proporsional sesuai kebutuhan dan kemampuan ekonomi mahasiswa.

Peningkatan Kesejahteraan 

Selain memperkuat kualitas akademik, UPI juga berupaya meningkatkan tata kelola dan kesejahteraan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Dalam bidang keuangan, laporan keuangan konsolidasian UPI tahun 2025 memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). UPI juga mempertahankan predikat AA atau Sangat Memuaskan dalam evaluasi akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.

Universitas ini turut memperoleh tiga penghargaan kehumasan melalui TOP GPR Awards dan Anugerah Humas Indonesia (AHI), penghargaan dari KONI Pusat sebagai Lembaga Pendidikan Berprestasi Terbaik, serta Penghargaan Niaga Werdhitama dari Kementerian Perdagangan RI atas kontribusi dalam pendampingan dan penguatan branding UMKM.

Dalam pengembangan aset, UPI berupaya memperluas lahan Kampus Bumi Siliwangi yang saat ini memiliki luas sekitar 37 hektare.

Optimalisasi aset lainnya dilakukan melalui pengelolaan sejumlah fasilitas universitas, termasuk Hotel Ponty, Kampus UPI Padasuka, Asrama Pasirlayung, Isola Training Center, dan TC Serang, Banten.

UPI juga membentuk UPI Business Center untuk memperkuat pengelolaan usaha internal kampus.

Adapun kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan didukung melalui program Maslahat Tambahan Berdampak (MTB) yang mulai diterapkan pada 2026. Alokasi anggaran program tersebut meningkat dari Rp120 miliar menjadi Rp200 miliar.

Pendistribusian MTB dikaitkan dengan capaian tridarma dosen dan kinerja tenaga kependidikan. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kinerja sekaligus memastikan kesejahteraan diberikan secara lebih berkeadilan.

Memasuki usia ke-72, UPI menempatkan penguatan mutu akademik, riset, kolaborasi internasional, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari agenda pengembangan ke depan. Melalui tema “Melesat Berdampak”, UPI berupaya menjadikan capaian institusi sebagai pijakan untuk memperluas manfaat pendidikan dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat serta pembangunan bangsa. (*)

#UPI #DiesNatalis #DiesNatalisKe-72 #Tridarma #Pendidikan