Saatini Jabar Nusantara AMP
Lifestyle

Fashion Tendance 2026 di Bandung, Batik hingga Tenun Makassar Disulap Jadi Koleksi Couture yang Memikat

Pergelaran Fashion Tendance 2026 di Bandung sukses menampilkan transformasi kain tradisional seperti batik dan tenun Makassar menjadi karya adibusana yang modern dan elegan. Acara yang diinisiasi oleh APPMI Jawa Barat ini menjadi panggung bagi sembilan desainer untuk memadukan warisan budaya Nusantara dengan nuansa modest couture serta siluet kontemporer.

Oleh Umar Erwin Editor: Gatot Wahyu
Fashion Tendance 2026 di Bandung, Batik hingga Tenun Makassar Disulap Jadi Koleksi Couture yang Memikat (Foto: Istimewa )

BANDUNG, Jabarnusantara.saatini.com – Warisan budaya Indonesia ternyata bisa tampil begitu modern ketika berada di tangan para desainer kreatif. Perpaduan kain tradisional, motif khas Nusantara, hingga filosofi budaya berhasil diterjemahkan menjadi karya adibusana yang elegan dalam pergelaran Fashion Tendance 2026 di Imah Seniman, Bandung, Kamis (5/11/2026).

Digelar oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Barat, perhelatan ini menjadi panggung bagi sembilan desainer untuk memperlihatkan kreativitas sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui dunia fashion.

Tidak hanya menghadirkan busana berbahan tekstil tradisional, Fashion Tendance 2026 juga menampilkan ragam rancangan modest couture, busana kontemporer, hingga gaun pengantin dengan sentuhan material dan siluet yang lebih modern.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah ELEVÉ karya Ketua APPMI Jawa Barat, Susan Zhuang. Melalui koleksi tersebut, Susan mencoba menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana tradisi dapat berjalan beriringan dengan perkembangan mode masa kini.

Batik menjadi salah satu elemen utama yang dipadukan dengan renda dan beludru. Karakter kebaya modern diperkuat melalui konstruksi korset, detail artistik, serta teknik draperi dinamis yang memberikan kesan feminin sekaligus berani.

Pilihan warna merah anggur, biru tua, emas antik, dan nuansa warna bumi semakin mempertegas karakter elegan dalam koleksi tersebut.

Susan menggambarkan ELEVÉ sebagai representasi perempuan modern yang tetap menghargai akar budaya, tetapi memiliki keberanian untuk mengekspresikan identitasnya melalui pendekatan baru.

“ELEVÉ adalah tentang bergerak maju tanpa melupakan akar. Tentang menghargai warisan, namun berani memberinya bentuk baru. Tentang perempuan modern yang membawa tradisi bersamanya dengan caranya sendiri,” ungkap Susan.

Selain Susan, panggung Fashion Tendance 2026 juga diramaikan oleh GEGGO TEGUH, Errin Ugaru, Fiona Yao, Hanny Lovelly, Malik Moestram, Misan Kopaka, Naimy31, dan Bellahasura. Masing-masing membawa cerita dan inspirasi berbeda dalam setiap koleksinya.

Sembilan Desainer, Sembilan Cerita dalam Balutan Fashion

Peragaan busana diawali oleh GEGGO TEGUH melalui koleksi Nusantara Heritage Toile. Terinspirasi dari gaya ilustrasi klasik Asian Toile, koleksi ini mengangkat keindahan Indonesia melalui motif arsitektur tradisional, pura, pendopo, panorama pegunungan, pepohonan tropis, hingga bunga eksotis.

Nuansa krem gading dan abu-abu mendominasi koleksi tersebut. Teknik ilustrasi garis halus membuat motif yang ditampilkan terasa klasik, tetapi tetap memiliki daya tarik untuk diterapkan pada busana modern.

Berikutnya, Errin Ugaru membawa koleksi INHERENT yang mengeksplorasi konsep modern modest couture. Koleksi ini berangkat dari gagasan mengenai kekuatan, keanggunan, dan identitas perempuan sebagai karakter yang melekat dalam dirinya.

Karakter tersebut dituangkan melalui siluet arsitektural, potongan asimetris, kancing dekoratif, serta material jacquard bermotif. Perpaduan struktur tegas dengan detail feminin menjadikan koleksi ini tampil modern dan berkelas.

Eksplorasi lintas budaya kemudian diperlihatkan Fiona Yao lewat SILK & SOIL. Koleksi couture tersebut mempertemukan warisan tekstil Indonesia, estetika yang terinspirasi budaya Tiongkok, dan keindahan alam.

Motif botani, pengolahan tekstil yang rumit, serta permainan tekstur menjadi elemen penting dalam rancangan Fiona. Hasilnya, koleksi tersebut menghadirkan nuansa romantis sekaligus kuat.

Melalui SILK & SOIL, kemewahan tidak hanya ditampilkan melalui tampilan visual, tetapi juga melalui hubungan antara material, alam, dan nilai warisan budaya.

Sementara itu, Hanny Lovelly memperkenalkan Pradnya Vastra, koleksi modest couture yang menjadikan Tenun Makassar sebagai elemen utama.

Nama Pradnya Vastra berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna kebijaksanaan dan busana atau kain. Filosofi tersebut diterjemahkan melalui rancangan dengan permainan struktur, cape, teknik berlapis, aksen tali, dan volume busana.

Dominasi warna cokelat hangat, krem, serta sentuhan emas memberikan kesan mewah sekaligus memperlihatkan penghormatan terhadap keterampilan para perajin tekstil tradisional.

Koleksi berbeda ditampilkan Malik Moestram melalui Ultimae Memoriae. Desainer ini memadukan seni floral Tiongkok dengan kekayaan budaya Melayu Nusantara dalam rancangan busana Muslim.

Siluet khas Melayu berpadu dengan penggunaan tulle, renda, dan renda bordir. Pilihan warna antique rose, meadow olive, petal blush, antique champagne, serta warm ivory menghadirkan kesan lembut dan romantis.

Dari kategori busana pengantin, Misan Kopaka melalui label KOPAKA membawa koleksi THE ESSENCE OF BLOOM.

Bunga menjadi sumber inspirasi utama dalam koleksi tersebut, sekaligus simbol cinta dan awal kehidupan baru. Nuansa putih mendominasi gaun yang dibuat menggunakan material tulle, satin, sutra, organza, dan renda.

Detail kelopak bunga berukuran dramatis, susunan lapisan kain, serta siluet menyerupai pahatan menjadi kekuatan visual koleksi ini. Rancangannya memperlihatkan perpaduan antara kelembutan material dan konstruksi busana yang terstruktur.

Kekayaan budaya lokal juga mendapat sorotan melalui koleksi SAJATI: Cahaya, Cinta, Cerita dari Naimy31.

Mengusung konsep Contemporary Heritage Couture, koleksi ini mengambil inspirasi dari Lampu Gentur dan Batik Cianjur. Kedua warisan budaya tersebut diterjemahkan ke dalam busana melalui eksplorasi kulit domba, batik, beludru, brokat, jacquard, sutra, hingga tulle.

Detail bordir, payet, dan ornamen dekoratif memperkaya tampilan setiap rancangan. Tidak sekadar menghadirkan keindahan visual, koleksi ini juga membawa pesan tentang identitas, kesadaran budaya, dan keberlanjutan warisan lokal.

Menutup rangkaian karya sembilan desainer, Bellahasura memperkenalkan MARIPOSA. Koleksi ini terinspirasi dari proses metamorfosis kupu-kupu yang menjadi simbol perubahan, pertumbuhan, dan perjalanan perempuan.

Berbeda dari beberapa koleksi lainnya, MARIPOSA tampil dengan pilihan warna cerah. Setelan jaket dan rok hingga gaun tanpa lengan menjadi bagian dari koleksi yang diperkuat detail bordir trapunto bermotif kupu-kupu dan bunga.

Tekstur timbul dari teknik bordir tersebut memberikan karakter khas sekaligus memperkaya tampilan busana.

Libatkan Desainer Muda dan Brand Fashion Lokal

Fashion Tendance 2026 tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi desainer profesional. Pergelaran ini juga mempertemukan pelaku industri mode dengan talenta muda dan jenama lokal yang memiliki potensi untuk berkembang.

Salah satunya melalui keterlibatan Universitas Kristen Maranatha yang menghadirkan EVOLUSIA 2026.

Dalam pergelaran tahunan ke-16 tersebut, sebanyak 18 desainer muda dari Program Diploma III Seni Rupa dan Desain, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif Universitas Kristen Maranatha menampilkan 54 tampilan busana.

Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri dalam acara ini. Karya para mahasiswa memperlihatkan kreativitas generasi baru sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi desainer muda kepada industri fashion.

Kolaborasi lainnya datang dari YOGYA Group yang membawa tiga jenama mode lokal, yaitu ANN DESIGN, LIQUID, dan KANEESHA.

ANN DESIGN menampilkan busana profesional perempuan dengan siluet modern yang dapat menjadi inspirasi gaya berpakaian untuk aktivitas kerja. LIQUID menghadirkan karakter pria urban melalui kombinasi busana kasual dan streetwear.

Sementara itu, KANEESHA memperkenalkan koleksi modest wear bertajuk Senjanarona yang mengambil inspirasi dari keindahan laut Labuan Bajo.

Jenama ANDREW SMITH juga turut meramaikan panggung dengan koleksi busana pria kontemporer. Eksplorasi pola, pemilihan material, dan detail rancangan menjadi pendekatan yang ditonjolkan.

Kehadiran berbagai desainer dan jenama tersebut memperlihatkan bahwa industri fashion Indonesia memiliki ruang kolaborasi yang luas. Mulai dari pelestarian budaya, pengembangan kreativitas generasi muda, hingga penguatan jenama lokal.

Melalui Fashion Tendance 2026, APPMI Jawa Barat memperlihatkan bahwa kekayaan budaya Nusantara memiliki potensi besar untuk terus berkembang dalam industri mode modern.

Batik, tenun, motif tradisional, hingga filosofi budaya bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan identitas yang dapat diterjemahkan menjadi karya fashion bernilai estetika tinggi.

Perhelatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tren boleh terus berubah, tetapi kekayaan budaya Indonesia tetap memiliki tempat istimewa sebagai sumber inspirasi bagi para perancang busana. (*)

Bandung Fashion [Mode APPMI Batik Tenun Makassar Couture Desainer Indonesia]