GoTo berhasil membukukan laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III 2026, melanjutkan tren positif selama tiga kuartal berturut-turut dengan pertumbuhan pendapatan bersih 17 persen. Berkat kinerja solid tersebut, manajemen menaikkan target EBITDA disesuaikan untuk tahun 2026 menjadi Rp3,5-3,7 triliun.
JAKARTA, Jabarnusantara.saatini.com – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) kembali menunjukkan tren positif dalam kinerja keuangannya. Perusahaan teknologi yang menaungi Gojek dan GoPay tersebut berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp441 miliar pada kuartal III 2026. Pencapaian ini sekaligus memperpanjang tren laba bersih perusahaan menjadi tiga kuartal berturut-turut.
Hasil tersebut menjadi perkembangan positif bagi GoTo di tengah berbagai tantangan industri dan dinamika pasar sepanjang tahun ini. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp255 miliar.
Selain berhasil mempertahankan profitabilitas, GoTo juga mencatatkan pertumbuhan pada sejumlah indikator bisnis utama. Gross Transaction Value (GTV) inti meningkat 89 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) menjadi Rp194 triliun. Sementara itu, pendapatan bersih perusahaan tumbuh 17 persen menjadi Rp5,6 triliun.
Kinerja positif tersebut turut mendorong manajemen untuk menaikkan proyeksi kinerja keuangan sepanjang 2026, khususnya pada indikator EBITDA yang disesuaikan.
Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, mengatakan pencapaian laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut menjadi salah satu bukti ketahanan fundamental bisnis perusahaan di tengah kondisi industri yang terus berkembang.
“Pada kuartal ketiga 2026, GoTo kembali mencatatkan laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut. Pada kesempatan ini, kami juga menyampaikan GoTo akan menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk tahun 2026 menjadi Rp3,5–3,7 triliun,” ujarnya.
Menurut Hans, capaian tersebut diraih ketika perusahaan menghadapi sejumlah tantangan operasional. Salah satunya adalah penerapan komisi sebesar 8 persen pada layanan GoRide yang mulai memberikan dampak selama satu kuartal penuh pada periode pelaporan kali ini.
“Hasil ini dicapai di tengah berbagai tantangan dalam beberapa bulan terakhir. Ini adalah kuartal penuh pertama sejak komisi 8% mulai diterapkan di layanan GoRide, dan dampaknya cukup signifikan,” tuturnya.
GoTo Perkuat Fundamental dan Optimalkan Nilai bagi Pemegang Saham
Di tengah perubahan kondisi industri, GoTo menegaskan komitmennya untuk menjaga kesehatan bisnis melalui disiplin operasional dan pengelolaan alokasi modal.
Perusahaan juga mengambil sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham. Salah satunya melalui rencana pembatalan 32 miliar saham tresuri atau setara sekitar 2,7 persen dari total saham.
Keputusan tersebut sebelumnya telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) GoTo pada 14 Oktober 2026. Pembatalan saham akan dilakukan setelah seluruh proses regulasi yang dipersyaratkan selesai, dengan estimasi waktu sekitar dua hingga tiga bulan mendatang.
Selain itu, GoTo juga melanjutkan program pembelian kembali saham atau buyback. Hingga 29 Oktober 2026, perusahaan telah mengalokasikan dana Rp985 miliar untuk membeli kembali sebanyak 36 miliar saham.
Jumlah tersebut setara hampir 3 persen dari total saham Perseroan. GoTo masih memiliki alokasi dana Rp2,5 triliun untuk melanjutkan pembelian kembali saham berdasarkan persetujuan yang berlaku hingga Juni 2027.
Hans menegaskan, langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis.
“Selain itu, untuk semakin memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, kami melakukan dua hal. Pertama, kami akan membatalkan 32 miliar saham tresuri atau setara 2,7% dari total saham, yang baru-baru ini disetujui dalam RUPSLB. Langkah ini akan mengurangi jumlah saham beredar sehingga meningkatkan persentase kepemilikan pemegang saham yang ada. Kedua, kami juga terus membeli kembali saham perusahaan karena kami percaya saham GoTo saat ini menawarkan nilai yang menarik,” tegasnya.
Di sisi lain, perusahaan memastikan bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya berorientasi pada pencapaian finansial, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan ekosistem yang selama ini mendukung operasionalnya.
Salah satu perhatian tersebut diwujudkan melalui pengembangan Program Apresiasi Mitra yang memberikan berbagai manfaat bagi mitra pengemudi dan keluarganya.
“Kami akan terus menjaga fundamental bisnis tetap sehat. Dengan bisnis yang sehat, kami dapat terus tumbuh dan mendukung seluruh pihak dalam ekosistem kami, termasuk jutaan mitra driver. Melalui Program Apresiasi Mitra yang terus kami perluas, kami ingin lebih banyak mitra driver dan keluarga mereka merasakan manfaatnya, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, Beasiswa, hingga Umrah gratis,” paparnya.
Pendapatan dan Transaksi GoPay Tumbuh Signifikan
Dari sisi operasional, kinerja GoTo pada kuartal III 2026 turut ditopang oleh pertumbuhan bisnis layanan keuangan digital atau financial technology (fintech) melalui GoPay.
Sepanjang periode tersebut, jumlah pengguna aktif bertransaksi bulanan atau Monthly Transacting Users (MTU) GoPay mencapai 30,4 juta pengguna. Angka ini meningkat 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan semakin terlihat pada intensitas penggunaan layanan. Jumlah transaksi GoPay melonjak 86 persen secara tahunan menjadi 2,8 miliar transaksi. Sementara itu, GTV inti bisnis fintech meningkat 96 persen menjadi Rp187 triliun.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA yang disesuaikan pada segmen fintech mencapai Rp550 miliar atau tumbuh 304 persen secara tahunan. Pendapatan bersih juga meningkat 49 persen menjadi Rp2,3 triliun.
Peningkatan aktivitas pengguna turut memberikan dorongan terhadap bisnis pembiayaan. Nilai buku pinjaman tercatat tumbuh 51 persen secara tahunan menjadi Rp12 triliun.
Meski demikian, GoTo tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Perusahaan sebelumnya telah memperketat penyaluran pinjaman kepada kelompok pengguna dengan tingkat risiko tertinggi pada kuartal II 2026.
Strategi tersebut dilakukan untuk mengendalikan risiko sekaligus membatasi penurunan kualitas kredit pada kuartal berikutnya.
GoTo juga terus memanfaatkan kekuatan ekosistem digital yang dimiliki dengan memprioritaskan penyaluran pinjaman kepada pengguna yang telah berada dalam ekosistem perusahaan. Selain itu, tenor pinjaman yang relatif pendek memungkinkan perusahaan menyesuaikan proses penilaian kelayakan kredit dengan lebih cepat mengikuti perubahan kondisi pasar.
Bisnis Gojek Tetap Tumbuh di Tengah Penyesuaian Komisi
Sementara itu, pada segmen On-demand Services (ODS) yang dijalankan melalui Gojek, jumlah pesanan yang berhasil diselesaikan mengalami pertumbuhan 9 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh strategi perusahaan memperluas jangkauan layanan ke segmen pasar mass market. Namun, GTV pada segmen ini hanya tumbuh 1 persen menjadi Rp16,9 triliun.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh nilai transaksi pesanan produk mass market yang relatif lebih rendah serta penyesuaian harga GoRide setelah penerapan komisi sebesar 8 persen.
Meski menghadapi tekanan tersebut, EBITDA yang disesuaikan pada bisnis ODS masih meningkat 3 persen secara tahunan menjadi Rp347 miliar. Segmen ini juga mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp3,3 triliun.
Pada layanan Mobility, jumlah pesanan yang diselesaikan tumbuh 10 persen secara tahunan. Peningkatan ini didukung oleh semakin seringnya pengguna memanfaatkan layanan transportasi Gojek seiring perluasan berbagai program yang menyasar pasar mass market.
Namun, EBITDA yang disesuaikan pada segmen Mobility tercatat sebesar Rp159 miliar atau turun 16 persen secara tahunan. Margin EBITDA juga mengalami penurunan 50 basis poin menjadi 2,5 persen, terutama akibat penerapan komisi 8 persen.
GoTo mencatat dampak penerapan komisi tersebut terhadap layanan GoRide mencapai Rp150 miliar selama kuartal III 2026. Nilai ini sejalan dengan estimasi dampak sepanjang tahun sebesar Rp300 miliar yang sebelumnya disampaikan perusahaan pada Juli 2026.
Meski sempat mencatatkan EBITDA yang disesuaikan negatif pada Juli, kinerja GoRide disebut telah menunjukkan perbaikan dan mulai bergerak menuju titik impas.
Adapun pada segmen Delivery, jumlah pesanan yang diselesaikan tumbuh 7 persen secara tahunan. EBITDA yang disesuaikan meningkat lebih tinggi, yakni 20 persen menjadi Rp227 miliar, dengan margin yang naik 33 basis poin menjadi 2,1 persen.
Perkembangan tersebut didukung oleh perluasan jangkauan produk mass market. Strategi ini mendorong peningkatan jumlah transaksi dengan nilai pesanan yang lebih kecil, tetapi memiliki frekuensi pembelian lebih tinggi.
Di tengah perkembangan bisnis transportasi dan pengantaran, GoTo juga terus mencermati perubahan regulasi. Peraturan Presiden mengenai pelindungan ekosistem transportasi berbasis platform digital yang dipublikasikan pada Oktober 2026 menegaskan batas komisi sebesar 8 persen untuk layanan transportasi roda dua serta menetapkan mitra driver sebagai pelaku usaha mikro.
Sementara untuk layanan pengantaran, perusahaan masih menunggu aturan pelaksana dari Kementerian Komunikasi dan Digital.
Target EBITDA 2026 Dinaikkan Menjadi Rp3,5–3,7 Triliun
Sejalan dengan perkembangan kinerja keuangan dan operasional tersebut, GoTo memutuskan meningkatkan target EBITDA Grup yang disesuaikan untuk tahun penuh 2026.
Jika sebelumnya perusahaan menetapkan target pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun, kini proyeksi tersebut dinaikkan menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun.
Penyesuaian juga dilakukan pada masing-masing lini bisnis. Target EBITDA yang disesuaikan untuk segmen fintech GoPay meningkat dari Rp1,7 triliun–Rp1,8 triliun menjadi Rp1,9 triliun–Rp2 triliun.
Sementara itu, target bisnis On-demand Services melalui Gojek diperlebar menjadi Rp1,4 triliun–Rp1,6 triliun dari sebelumnya Rp1,4 triliun–Rp1,5 triliun.
Kenaikan target tersebut mencerminkan performa bisnis GoPay yang terus melampaui ekspektasi serta perkembangan bisnis Gojek yang mulai menunjukkan pertumbuhan.
Meski demikian, perusahaan tetap memperhitungkan sejumlah faktor eksternal, termasuk potensi perubahan regulasi terkait penerapan komisi 8 persen dan aturan pelaksana layanan pengantaran.
Secara keseluruhan, GoTo juga mencatatkan EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp950 miliar pada kuartal III 2026 atau meningkat 84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Arus kas bebas yang disesuaikan Grup turut mengalami peningkatan signifikan sebesar 389 persen secara tahunan menjadi Rp1,209 triliun. Sementara itu, pengguna bertransaksi tahunan atau Annual Transacting Users (ATU) tumbuh 16 persen menjadi 72,5 juta pengguna.
Dari bisnis e-commerce, imbalan jasa yang diperoleh melalui Tokopedia tercatat mencapai Rp235 miliar.
Manajemen menyampaikan bahwa proyeksi kinerja 2026 tersebut disusun berdasarkan estimasi awal perusahaan dengan mempertimbangkan kondisi pasar saat ini. Namun, pencapaiannya tetap dipengaruhi sejumlah risiko, mulai dari persaingan usaha, peningkatan biaya, ketidakpastian makroekonomi, hingga berbagai faktor lain di luar kendali perusahaan.
Dengan pencapaian laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut dan peningkatan target EBITDA, GoTo berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat fundamental bisnis di tengah perubahan lanskap industri digital Indonesia. (*)