JabarNusantara.SaatIni– Keterbatasan jaringan internet, jarak geografis, hingga tanggung jawab keluarga tak menyurutkan semangat tiga guru asal Maluku untuk meraih gelar sarjana. Charlota Janeta Lahatu, Rachel Yetti Tahapary, dan Hetna Sapulete berhasil menuntaskan pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).
Perjuangan ketiganya tidak berlangsung mudah. Selama menjalani perkuliahan jarak jauh, mereka harus menghadapi berbagai kendala, mulai dari sulitnya mendapatkan sinyal internet hingga membagi waktu antara kegiatan akademik dan tanggung jawab keluarga.
Meski demikian, tekad untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan menjadi penyemangat bagi ketiganya untuk terus menyelesaikan studi. Bahkan, setelah dinyatakan lulus, mereka berupaya datang langsung ke Bandung untuk mengikuti prosesi Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026.
Perjalanan dari Maluku menuju Jawa Barat pun membutuhkan persiapan tersendiri. Mereka menyisihkan uang untuk membiayai perjalanan menggunakan transportasi laut demi merasakan langsung momen kelulusan yang selama ini diperjuangkan.
Bagi Charlota, Rachel, dan Hetna, wisuda bukan sekadar seremoni akademik. Momen tersebut menjadi kesempatan untuk bertemu secara langsung dengan dosen dan rekan-rekan mahasiswa yang selama ini hanya mereka kenal melalui pembelajaran daring.
Rela Mencari Sinyal hingga ke Kampung Sebelah
Perjuangan menyelesaikan pendidikan tinggi di tengah keterbatasan infrastruktur digital menjadi pengalaman yang membekas bagi ketiga guru tersebut.
Saat mengikuti perkuliahan daring melalui aplikasi Zoom, mereka mengandalkan telepon pintar sebagai sarana utama untuk terhubung dengan kampus. Namun, jaringan internet yang tidak selalu stabil kerap menghambat proses pembelajaran, komunikasi dengan dosen maupun mahasiswa lain, hingga pengumpulan tugas.
Rachel Yetti Tahapary bahkan harus meninggalkan rumah dan pergi ke kampung tetangga demi mendapatkan sambungan internet yang memadai.
“Saya mesti lari ke kampung sebelah untuk mencari sinyal,” ungkapnya.
Upaya tersebut tidak selalu mudah. Ketika hujan turun, Rachel tetap berusaha mencari jaringan agar dapat mengikuti perkuliahan dan menuntaskan tugas-tugas akademiknya.
Di tengah perjuangan itu, ia juga harus menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga. Kondisi serupa turut dihadapi Charlota dan Hetna, yang harus menyeimbangkan waktu belajar dengan tanggung jawab keluarga masing-masing.
Dukungan suami dan anak-anak menjadi salah satu faktor penting yang membantu mereka bertahan hingga menyelesaikan pendidikan. Selain itu, bantuan melalui program pemerintah turut membuka jalan bagi ketiganya untuk melanjutkan studi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan akses teknologi tidak hanya berdampak pada kenyamanan belajar, tetapi juga menentukan seberapa besar upaya yang harus dilakukan mahasiswa untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.
Tak Semua Wisudawan Asal Maluku Bisa Hadir
Keberhasilan Charlota, Rachel, dan Hetna menghadiri wisuda secara langsung menjadi kebahagiaan tersendiri. Namun, kesempatan tersebut belum dapat dirasakan oleh seluruh rekan mereka yang berasal dari Maluku.
Berdasarkan data Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI, sebanyak 18 dari total 33 mahasiswa asal Maluku tidak dapat menghadiri Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026.
Sejumlah kendala menjadi penyebab ketidakhadiran mereka. Selain dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap, jarak tempat tinggal menuju bandara dan keterbatasan biaya perjalanan turut menjadi hambatan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi belum tentu diikuti dengan kemudahan untuk menghadiri seremoni kelulusan secara langsung.
Bagi mahasiswa yang tinggal di wilayah dengan akses transportasi terbatas, perjalanan menuju kampus dapat membutuhkan biaya, waktu, dan persiapan yang tidak sedikit. Situasi ini semakin menantang ketika mereka harus menghadapi kondisi darurat atau bencana yang berada di luar kendali.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu UPI, Prof. Dr. Vanessa Gaffar, S.E., Ak., MBA., menyampaikan keprihatinannya terhadap para wisudawan yang tidak dapat menghadiri prosesi kelulusan karena berbagai kendala tersebut.
"Kami turut prihatin kepada para wisudawan yang tidak bisa hadir ke sini bukan karena tidak ingin, tetapi karena force majeure,” ujar Vanessa saat pelaksanaan Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026 di Gedung Gymnasium UPI, Bandung, Jumat (16/10/2026).
Tidak Hadir Wisuda Bukan Berarti Tidak Mendapatkan Ijazah
Vanessa menegaskan bahwa ketidakhadiran dalam prosesi wisuda tidak menghapus status kelulusan mahasiswa. Selama telah memenuhi persyaratan akademik dan administrasi, para lulusan tetap berhak memperoleh dokumen kelulusan sesuai ketentuan yang berlaku.
UPI menyediakan akses terhadap ijazah elektronik, sertifikat, dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) melalui sistem yang tersedia di lingkungan universitas.
“Ini sebetulnya hanya proses selebrasinya saja mungkin yang tidak bisa hadir. Tapi tidak berarti tidak mendapatkan ijazah,” katanya.
Dengan mekanisme tersebut, lulusan yang berhalangan datang ke kampus tetap dapat mengakses dokumen akademik tanpa harus menunggu kehadiran mereka dalam seremoni wisuda.
Kebijakan ini menjadi penting, terutama bagi lulusan yang tinggal jauh dari kampus atau menghadapi kendala perjalanan akibat faktor geografis, ekonomi, maupun kondisi darurat.
Dengan demikian, pelaksanaan wisuda sebagai bentuk perayaan kelulusan dapat dibedakan dari pemenuhan hak akademik mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikannya.
UPI Buka Kesempatan Wisuda pada Desember 2026
Bagi wisudawan yang belum dapat menghadiri prosesi pada Oktober, UPI juga menyediakan kesempatan untuk mengikuti wisuda pada gelombang berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026.
Vanessa meminta para lulusan yang berminat mengikuti prosesi tersebut agar segera menyampaikan keinginan mereka kepada program studi masing-masing.
Pendataan diperlukan agar program studi dapat mengidentifikasi wisudawan yang terdampak kendala kehadiran, kemudian menyampaikan laporan kepada Direktorat Pendidikan UPI untuk diproses lebih lanjut.
Langkah ini diharapkan dapat membantu para lulusan yang belum berkesempatan hadir pada Oktober agar tetap memiliki peluang mengikuti seremoni wisuda pada jadwal berikutnya.
Di sisi lain, akses terhadap dokumen akademik secara elektronik memungkinkan lulusan memperoleh dokumen kelulusan sesuai haknya tanpa harus menunggu pelaksanaan wisuda berikutnya.
Artinya, hambatan perjalanan tidak serta-merta menjadi penghalang bagi lulusan untuk mendapatkan pengakuan akademik setelah seluruh persyaratan kelulusan dipenuhi.
Pesan Tiga Guru untuk Pendidik di Daerah
Perjalanan Charlota Janeta Lahatu, Rachel Yetti Tahapary, dan Hetna Sapulete menjadi gambaran bagaimana program pembelajaran jarak jauh dapat membuka akses pendidikan tinggi bagi para pendidik yang tinggal jauh dari pusat pendidikan.
Di tengah keterbatasan jaringan internet, tantangan geografis, serta kewajiban keluarga, ketiganya membuktikan bahwa pendidikan dapat tetap diperjuangkan dengan ketekunan dan dukungan lingkungan terdekat.
Namun, pengalaman para mahasiswa asal Maluku yang tidak dapat menghadiri wisuda juga menjadi pengingat bahwa pemerataan akses pendidikan masih membutuhkan perhatian. Ketersediaan infrastruktur digital, kemudahan transportasi, dukungan pembiayaan, serta layanan akademik yang fleksibel menjadi sejumlah aspek yang perlu terus diperhatikan.
Bagi UPI, pengalaman ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat dukungan akademik dan administrasi bagi mahasiswa yang berasal dari wilayah dengan kondisi geografis beragam.
Sementara itu, Charlota, Rachel, dan Hetna menyampaikan pesan kepada para guru yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kendala biaya maupun jarak.
Bagi mereka, ketekunan, doa, dan dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam menuntaskan perjalanan akademik.
Kisah ketiga guru asal Maluku tersebut bukan hanya tentang keberhasilan meraih gelar sarjana, melainkan juga tentang perjuangan membuka kesempatan untuk terus berkembang di tengah berbagai keterbatasan. Perjalanan mereka sekaligus menegaskan pentingnya menghadirkan akses pendidikan yang semakin inklusif agar para pendidik di berbagai wilayah Indonesia memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya. (*)
Tinggalkan Komentar