BANDUNG, JabarNusantara.SaatIni.com – Bagaimana jadinya jika seorang gadis yang sehari-hari berjuang mencari nafkah sebagai warga rumah susun (rusun) tiba-tiba berubah menjadi vampir? Bukannya langsung menjadi sosok menyeramkan, perubahan itu justru membuka jalan bagi berbagai kejadian kocak yang mengundang gelak tawa.

Cerita unik tersebut hadir dalam film Siti Si Vampir, yang sukses menghadirkan suasana meriah saat menggelar special screening di Empire XXI Bandung dan Ubertos XXI pada Minggu (18/10).

Kehadiran para pemain, yakni Satine Zaneta, Ciccio Manassero, dan Ajil Ditto, turut menambah antusiasme penonton sebelum film ini resmi tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.

Mengusung perpaduan drama dan komedi, Siti Si Vampir tidak sekadar menawarkan cerita tentang makhluk pengisap darah.

Film ini mengajak penonton melihat perjuangan anak muda menghadapi kerasnya kehidupan, kesenjangan sosial, hingga keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Tokoh utama Siti, yang diperankan Satine Zaneta, digambarkan sebagai gadis penghuni rusun yang harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Kehidupannya jauh dari kata mewah, sementara berbagai tuntutan hidup terus membayangi kesehariannya.

Situasi berubah ketika Siti mengalami kejadian tak terduga akibat gigitan Nakula, seorang vampir tampan dari kalangan elite.

Peristiwa salah gigit tersebut menjadi awal petualangan Siti dalam menjalani kehidupan barunya sebagai vampir dengan kemampuan yang justru jauh dari kata sempurna.

Alih-alih tampil sebagai vampir menakutkan, Siti justru menjadi sosok yang mengundang tawa. Berbagai keterbatasan yang dimilikinya menghadirkan komedi yang dekat dengan keseharian, sekaligus memperlihatkan bagaimana seseorang berusaha mencari jalan keluar dari kondisi hidup yang serba terbatas.

Satine Zaneta Tampilkan Sisi Berbeda sebagai Gadis Rusun

Lewat karakter Siti, Satine Zaneta menunjukkan penampilan yang berbeda dibandingkan peran-peran sebelumnya. Ia memerankan perempuan muda yang harus menjadi tulang punggung keluarga, sembari menyimpan harapan untuk mengubah nasibnya.

Keinginan Siti untuk hidup lebih baik menjadi salah satu penggerak utama cerita. Perubahan menjadi vampir yang semula terlihat sebagai sebuah keuntungan justru membawanya pada persoalan baru, terlebih ketika ia harus berhadapan dengan dunia vampir elite yang memiliki aturan dan kepentingannya sendiri.

Satine menilai, kekuatan film ini terletak pada perpaduan komedi satir dan persoalan kehidupan yang dekat dengan realitas masyarakat. Cerita tentang perjuangan ekonomi, hubungan keluarga, hingga kesenjangan kelas sosial dibalut dengan humor yang menghibur.

“Film Siti Si Vampir menghadirkan komedi yang menghibur, dengan kisah anak muda dalam berjuang di tengah kerasnya kehidupan.

Dengan komedi satir, drama anak perempuan-bapak single parent, dan kehidupan warga rusun vs vampir elit, membuat film ini terasa relevan dengan berbagai dinamikanya,” ujar pemeran Siti, Satine Zaneta.

Selain persoalan ekonomi, film ini turut menyoroti fenomena anak muda yang ingin memperoleh pengakuan dan popularitas di tengah budaya pamer atau flexing di media sosial.

Keinginan untuk terlihat sukses menjadi bagian dari realitas yang dihadapi Siti dan Stella, karakter yang diperankan Shania Gracia.

Melalui konflik tersebut, penonton diajak melihat bahwa keinginan untuk mengubah hidup tidak selalu berjalan mulus.

Ada pilihan-pilihan sulit yang harus dihadapi, termasuk ketika kesempatan untuk naik kelas datang dengan konsekuensi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Ciccio Manassero Jadi Vampir Elite yang Elegan dan Dingin

Di sisi lain, Ciccio Manassero hadir sebagai Nakula, vampir elite yang menjadi penyebab perubahan hidup Siti. Karakter ini memiliki penampilan tampan, elegan, dan cenderung dingin, sehingga memberikan kontras dengan kepribadian Siti yang lebih membumi.

Meski minim ekspresi, Nakula tetap memiliki daya tarik tersendiri. Karakter tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pemicu konflik, tetapi juga menyimpan persoalan keluarga yang memberikan kedalaman pada jalan cerita.

Salah satu sisi menarik Nakula terlihat melalui hubungannya dengan sang ibu. Di balik penampilannya yang tenang dan berkelas, ia harus menghadapi perjuangan tersendiri ketika berusaha memperjuangkan Siti di hadapan keluarganya.

“Sebagai sosok vampir di film ini, aku mewakili dari kelompok elitnya, jadi memang harus tampil elegan dan stay cool. Ada sisi yang menyentuh dari relasi karakterku dengan sang Ibu, bagaimana Nakula memperjuangkan Siti di hadapan ibunya, yang menjadi perjuangan Nakula,” ujar Ciccio Manassero.

Kehadiran Nakula membuat cerita tidak hanya berputar pada kejadian-kejadian lucu akibat perubahan Siti menjadi vampir. Hubungan antarkarakter juga memperlihatkan bahwa persoalan keluarga dan penerimaan diri bisa dialami siapa saja, terlepas dari status sosial maupun latar belakang kehidupan mereka.

Kesenjangan Kaum Elite dan Warga Rusun

Persoalan kesenjangan sosial menjadi salah satu tema penting yang diangkat melalui karakter Dudi, yang diperankan Ajil Ditto. Dalam cerita ini, kehidupan warga rusun berhadapan langsung dengan kekuatan kelompok vampir elite yang memiliki pengaruh lebih besar.

Perbedaan posisi tersebut menggambarkan situasi ketika kelompok yang memiliki kuasa dapat menentukan nasib kelompok yang lebih lemah. Warga rusun seolah tidak memiliki banyak pilihan ketika kepentingan kaum elite mulai mengancam kehidupan mereka.

Ajil melihat konflik tersebut sebagai gambaran tentang relasi kuasa yang juga dapat ditemukan dalam kehidupan nyata. Perbedaan kekuatan dan akses membuat kelompok tertentu lebih mudah menentukan arah kehidupan orang lain.

“Kita melihat orang-orang yang jauh lebih powerful, yang di film ini diwakili dari kaum vampir, merasa punya kuasa penuh dengan orang yang ada di bawah, yaitu orang-orang di rusun yang ditinggali Siti dan Dudi. Sementara, orang-orang di bawah tidak bisa melakukan apa-apa,” ungkap Ajil Ditto.

Tema tersebut semakin kuat ketika rusun yang menjadi tempat tinggal Siti dan warga lainnya justru masuk dalam target “panen” vampir. Situasi ini menempatkan Siti pada persimpangan penting: mengikuti sistem yang sudah terbentuk atau berani melawan demi mempertahankan tempat tinggal dan kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Konflik itu menjadi landasan bagi perjalanan Siti untuk memahami arti kekuatan, keberanian, dan pilihan. Perubahan dirinya menjadi vampir mungkin memberikan kesempatan untuk keluar dari kehidupan yang serba pas-pasan, tetapi pada akhirnya ia tetap harus menentukan sikap ketika berhadapan dengan ketidakadilan.

Ada Cerita Keluarga dan Perlawanan Sosial

Sutradara Rahabi Mandra menghadirkan pendekatan berbeda melalui Siti Si Vampir. Jika cerita tentang setan dan hantu telah banyak muncul dalam perfilman Indonesia, kali ini sosok vampir digunakan sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Perpaduan komedi, drama keluarga, dan kritik sosial membuat film ini tidak hanya mengandalkan kehadiran karakter supernatural. Dunia vampir yang digambarkan memiliki kelompok elite dan masyarakat kelas bawah menjadi cerminan hubungan sosial yang penuh ketimpangan.

Di tengah humor yang muncul dari berbagai situasi absurd, film ini juga membawa kisah keluarga yang berpotensi membuat penonton merasa dekat dengan karakter-karakternya. Siti dan Nakula, misalnya, sama-sama memiliki persoalan di lingkungan keluarga masing-masing, meskipun berasal dari latar kehidupan yang sangat berbeda.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keluarga tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi. Di balik kehidupan yang tampak bertolak belakang, setiap karakter memiliki perjuangan, harapan, dan konflik yang harus diselesaikan.

Film Siti Si Vampir diproduksi oleh Viddsee dan Bahagia Tanpa Drama, bekerja sama dengan AZ Films, Spectrum Film, serta PK Films. Film ini disutradarai Rahabi Mandra, dengan Kenny Png dan Celerina Judisari sebagai produser.

Selain Satine Zaneta, Ciccio Manassero, dan Ajil Ditto, film ini juga dibintangi Shania Gracia, Nugie, serta Kimberly Ryder.

Saksikan Siti Si Vampir di Bioskop Mulai 22 Oktober 2026

Melalui cerita yang menggabungkan humor, drama keluarga, dan persoalan kesenjangan sosial, Siti Si Vampir menawarkan alternatif tontonan bagi penikmat film Indonesia yang mencari hiburan dengan cerita yang tetap memiliki makna.

Perjalanan Siti yang berawal dari keinginan sederhana untuk mengubah nasib berkembang menjadi perjuangan menghadapi sistem yang tidak berpihak kepada kelompok lemah.

Di tengah berbagai kejadian kocak, penonton diajak mengikuti bagaimana Siti menentukan pilihan ketika kehidupannya dan orang-orang di sekitarnya berada dalam ancaman.

Apakah Siti akan memanfaatkan identitas barunya sebagai vampir demi kepentingan pribadi, atau justru melawan kelompok elite yang mengancam kehidupan warga rusun?

Jawabannya bisa disaksikan melalui film Siti Si Vampir yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada 22 Oktober 2026.

Untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai film ini, penonton dapat mengikuti akun Instagram resmi @viddseeid, @bahagiatanpadrama, dan @filmsitisivampir.

Sinopsis Siti Si Vampir

Siti (Satine Zaneta) merupakan gadis penghuni rusun yang menjadi tulang punggung keluarganya. Kehidupannya berubah setelah ia mengalami kejadian “salah gigit” oleh Nakula (Ciccio Manassero), vampir tampan yang berhasil memikat hatinya.

Perubahan itu membuat Siti menjadi vampir dengan kemampuan terbatas. Ia memiliki taring terbalik dan kekuatan yang tidak seberapa, tetapi justru melihat kondisi tersebut sebagai kesempatan untuk melepaskan diri dari kehidupan yang selama ini serba pas-pasan.

Namun, harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik tidak berjalan sesuai rencana. Ketika rusun tempat tinggalnya menjadi sasaran “panen” vampir, Siti harus menentukan pilihan besar: mengikuti sistem yang menguntungkan kelompok elite atau melawannya demi mempertahankan kehidupan warga rusun.

Di tengah komedi dan situasi yang tidak terduga, Siti pun menghadapi perjalanan yang menguji keberanian, prinsip, dan keinginannya untuk mengubah nasib. (*)