BANDUNG, JabarNusantara.SaatIni.com - Bagi Ainun, pendidikan bukan sekadar jalan untuk memperoleh gelar akademik, melainkan kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuan dan membuktikan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi yang patut diberi ruang.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekitar 23 tahun lalu, Ainun kembali ke almamaternya untuk menuntaskan studi magister di Program Studi Pendidikan Khusus S2, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI.
Ainun merupakan guru di SLB Negeri Tasikmalaya. Pilihannya melanjutkan pendidikan pada bidang Pendidikan Khusus berkaitan erat dengan pekerjaan yang telah dijalankan sejak awal karier.
Dengan latar belakang pendidikan sejarah dan pengalaman mengajar di sekolah luar biasa (SLB), ia ingin memperoleh pengetahuan yang lebih sesuai dengan bidang pekerjaannya.
“Cuma kan ngajarnya dari awal saya di SLB ya, jadi makanya sekarang ada kesempatan ngambil S2 di Pendidikan Khusus biar sesuai dengan lapangan kerjanya, tempat kerjanya,” tutur Ainun.
Keputusannya melanjutkan pendidikan memperlihatkan semangat untuk terus belajar di tengah perubahan zaman. Setelah lebih dari dua dekade meninggalkan bangku kuliah, Ainun kembali menjalani kegiatan akademik dengan pengalaman hidup dan pekerjaan yang berbeda.
Teknologi Membuka Ruang Kemandirian
Sebagai penyandang disabilitas netra, Ainun merasakan perbedaan besar antara pengalaman kuliah pada masa sarjana dan magister. Sekitar 23 tahun lalu, teknologi komputer bicara dan perangkat pembaca layar belum tersedia seperti sekarang. Ia masih mengandalkan bantuan reader untuk mengakses materi dan menyelesaikan tugas perkuliahan.
Saat melanjutkan studi magister, Ainun memanfaatkan laptop dengan perangkat lunak pembaca layar NVDA (NonVisual Desktop Access). Teknologi tersebut membantunya mengakses informasi pada layar dan mengerjakan tugas secara lebih mandiri.
“Sekarang kan udah ada komputer bicara, ya laptop yang pakai pembaca layar NVDA. Jadi untuk mengetik tugas, ngerjain tugas bisa sendiri. Tidak terlalu mengandalkan reader atau orang melihat,” ujarnya.
Perkembangan teknologi bantu memberikan kesempatan lebih besar bagi Ainun untuk mengelola kegiatan akademiknya secara mandiri.
Pengalaman ini juga menunjukkan bahwa penguasaan teknologi menjadi bagian penting dalam proses belajar, terutama bagi penyandang disabilitas yang membutuhkan sarana untuk mengakses informasi.
Bagi Ainun, teknologi bukan hanya alat untuk menyelesaikan tugas kuliah, tetapi juga sarana untuk mengikuti perkembangan pengetahuan dan meningkatkan kemampuan diri.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa penyandang disabilitas, khususnya generasi muda, agar terus belajar dan tidak tertinggal perkembangan teknologi.
Kembali Menyesuaikan Diri dengan Kampus
Kembali ke UPI setelah lebih dari dua dekade juga berarti beradaptasi dengan lingkungan yang telah berubah. Sejumlah bangunan bertingkat dan perubahan tata ruang membuat Ainun perlu kembali mengenali jalur serta lingkungan kampus.
“UPI yang sekarang sama UPI zaman dulu itu beda sekali,” ujarnya.
Baginya, orientasi dan mobilitas menjadi bagian penting ketika menjalani aktivitas di lingkungan yang tidak lagi sama seperti saat menempuh pendidikan sarjana. Ia juga mengapresiasi keramahan orang-orang di lingkungan kampus yang membantu selama menjalani studi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga dengan proses adaptasi. Bagi Ainun, kembali belajar setelah sekian lama menjadi kesempatan untuk mengenali perubahan lingkungan sekaligus terus mengembangkan diri.
Melawan Stigma
Pengalaman Ainun sebagai guru di SLB Negeri Tasikmalaya membuatnya memahami tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas, termasuk stigma yang masih berkembang di masyarakat.
Ia melihat bahwa sebagian orang masih memandang penyandang disabilitas seolah-olah memiliki kemampuan lebih rendah dibandingkan orang tanpa disabilitas.
Padahal, menurutnya, setiap individu memiliki kemampuan dan bakat yang dapat berkembang apabila memperoleh kesempatan, pendidikan, serta pelatihan yang sesuai.
“Padahal mereka juga mungkin banyak kemampuan-kemampuan terpendam, bakat-bakat terpendam yang harus digali,” ungkap Ainun.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan penting dari perjalanan Ainun. Pendidikan tidak semestinya dibatasi oleh penilaian terhadap kondisi fisik seseorang. Sebaliknya, kesempatan belajar dapat membantu individu mengenali dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Ia juga mengajak para orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas agar tidak berkecil hati dan tetap memberikan kesempatan kepada anak-anak mereka untuk menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.
“Jadi tetap semangat menyekolahkan anak-anaknya, menguliahkan anak-anak,” pesannya.
Bagi Ainun, pendidikan dan pelatihan memiliki peran penting dalam membuka kesempatan. Masyarakat perlu memberikan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan berkontribusi sesuai potensi masing-masing.
Perjalanan Ainun dari mahasiswa Jurusan Sejarah hingga meraih gelar magister di Program Studi Pendidikan Khusus S2 FIP UPI menjadi gambaran bahwa proses belajar dapat terus berlanjut sepanjang kehidupan.
Pengalamannya sebagai mahasiswa sekaligus guru memberinya ruang untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan, penguasaan teknologi, dan penerimaan terhadap potensi setiap individu.
Gelar magister yang diraihnya bukan hanya menjadi capaian akademik pribadi, tetapi juga bagian dari perjalanan profesionalnya sebagai pendidik.
Melalui pendidikan, Ainun menunjukkan bahwa keterbatasan yang kerap dilekatkan masyarakat kepada penyandang disabilitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup kesempatan mereka berkembang.
Pada akhirnya, mendobrak stigma bukan hanya tentang membuktikan kemampuan seseorang. Hal itu juga membutuhkan perubahan cara pandang masyarakat agar setiap orang memperoleh kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan berkontribusi tanpa dibatasi prasangka. (*)
Tinggalkan Komentar