BANDUNG, Jabarnusantara.saatini.com– Upaya mencegah kanker serviks di kalangan perempuan terus diperkuat melalui program vaksinasi Human Papillomavirus (HPV).
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) turut mengambil peran dengan menyediakan hingga 1.000 dosis vaksin HPV yang dapat diakses kalangan kampus maupun masyarakat umum.
Program tersebut digelar di Gedung Gymnasium UPI, Kamis (22/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-72 UPI. Selain memperluas akses vaksinasi, kegiatan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan kanker serviks sejak dini.
Sasaran program mencakup dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga perempuan dari masyarakat umum di sekitar lingkungan kampus. Pelibatan berbagai kelompok tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi kesehatan sekaligus mendorong semakin banyak perempuan untuk memperhatikan upaya pencegahan penyakit.
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi UPI, Prof. Dr. Tri Indri Hardini, M.Pd., menjelaskan bahwa penyelenggaraan vaksinasi HPV merupakan bentuk kepedulian perguruan tinggi terhadap kesehatan perempuan.
Menurutnya, pencegahan menjadi langkah penting yang perlu dilakukan sejak dini. Kesadaran terhadap manfaat vaksinasi diharapkan dapat membantu masyarakat memahami pentingnya perlindungan kesehatan sebelum munculnya risiko penyakit yang lebih serius.
“Karena ternyata vaksin HPV ini sangat bermanfaat, terutama bagi perempuan. Memang untuk acara kali ini kita fokuskan hanya untuk perempuan, kaitannya dengan mencegah kanker serviks,” kata Tri Indri Hardini, di sela kegiatan vaksin.
Vaksinasi Dilakukan dalam Tiga Tahap
Program vaksinasi HPV di UPI direncanakan berlangsung dalam tiga tahap pemberian dosis. Dosis pertama dijadwalkan pada Oktober, dosis kedua pada Januari, sedangkan dosis ketiga direncanakan pada April.
Pelaksanaan secara bertahap tersebut menjadi bagian dari rangkaian program yang perlu diikuti peserta sesuai jadwal vaksinasi dan anjuran tenaga kesehatan.
Tri Indri berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan jumlah perempuan yang mendapatkan vaksinasi, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan.
Menurutnya, pemahaman yang baik mengenai manfaat vaksin menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong masyarakat untuk mengikuti program pencegahan.
Ia mengakui bahwa kekhawatiran maupun keraguan terhadap vaksinasi masih dapat muncul di tengah masyarakat. Karena itu, edukasi perlu terus dilakukan agar masyarakat memperoleh informasi yang tepat sebelum mengambil keputusan terkait kesehatan.
“Sehat itu kan investasi. Jadi kita jangan berpikir saat sehat, karena kadang ada rasa takut atau keraguan setelah pengalaman vaksin sebelumnya. Tapi alhamdulillah setelah ada edukasi dan pemahaman, antusiasme masyarakat mulai terlihat,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa upaya pencegahan penyakit tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan layanan, tetapi juga membutuhkan pemahaman dan partisipasi masyarakat.
Dengan edukasi yang berkelanjutan, diharapkan semakin banyak perempuan yang menyadari pentingnya perlindungan kesehatan sejak dini.
Pemkot Bandung Targetkan Vaksinasi HPV Capai 97 Persen
Di tingkat daerah, Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Kesehatan juga terus mendorong peningkatan cakupan vaksinasi HPV. Program tersebut menjadi salah satu langkah preventif untuk menekan risiko kanker serviks, terutama pada kelompok perempuan usia muda.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam, mengatakan pihaknya menargetkan cakupan vaksinasi HPV mencapai 97 persen. Salah satu sasaran utama program ini adalah anak perempuan usia sekolah, khususnya siswi kelas V sekolah dasar (SD).
Pencapaian target tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk keluarga, institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Selain memperluas pelaksanaan vaksinasi, penyampaian informasi mengenai manfaat vaksin juga perlu dilakukan secara konsisten.
Sony menilai edukasi menjadi bagian penting agar masyarakat memahami alasan vaksinasi perlu dilakukan sejak dini. Dengan informasi yang memadai, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui keberadaan program, tetapi juga memahami manfaat perlindungan yang dapat diperoleh.
Di sisi lain, keterjangkauan biaya masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat yang ingin mendapatkan vaksin HPV secara mandiri. Harga vaksin di fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, dapat mencapai sekitar Rp1,2 juta untuk satu dosis.
Sony menjelaskan, dukungan subsidi dari pemerintah pusat dan pihak korporasi memungkinkan biaya vaksinasi menjadi lebih rendah sehingga dapat membantu masyarakat yang membutuhkan akses perlindungan tersebut.
“Kalau normal itu harganya bisa mencapai Rp1.200.000 per dosis. Melalui subsidi ini, harganya menjadi Rp290.000 per dosis,” ujar Sony.
Dengan adanya subsidi tersebut, biaya vaksinasi turun menjadi Rp290.000 per dosis. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu mengurangi kendala biaya sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi HPV.
Meski demikian, informasi mengenai ketersediaan vaksin, persyaratan peserta, serta jadwal pemberian dosis tetap perlu diperhatikan melalui penyelenggara program atau fasilitas kesehatan terkait.
Kolaborasi Pendidikan dan Kesehatan Perlu Diperkuat
Keterlibatan UPI dan Pemkot Bandung menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam memperluas akses layanan kesehatan preventif. Kampus dapat menjadi ruang strategis untuk menyampaikan edukasi kesehatan, mengingat lingkungan pendidikan memiliki jangkauan yang luas dan berinteraksi langsung dengan berbagai kelompok masyarakat.
Melalui program vaksinasi ini, upaya pencegahan kanker serviks tidak hanya diarahkan pada pemberian vaksin, tetapi juga pada peningkatan literasi kesehatan perempuan. Masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa langkah preventif merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Perluasan akses vaksinasi, dukungan subsidi, dan edukasi yang berkesinambungan menjadi sejumlah faktor yang dapat mendukung peningkatan partisipasi masyarakat. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pihak terkait pun diharapkan terus berkembang agar program pencegahan dapat menjangkau lebih banyak perempuan.
Vaksin HPV merupakan salah satu langkah pencegahan kanker serviks yang perlu dilakukan sesuai rekomendasi medis. Dengan akses yang lebih terjangkau dan pemahaman yang semakin baik, upaya melindungi kesehatan perempuan diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan. (*)
Tinggalkan Komentar